Pemilu 2009, Mengubah Nasib Banyak Orang atau Cari Gengsi ???

Saat ini sebenarnya apa yang mendasari dan menyebabkan peserta pemilu dan partai politik kian banyak dan berlomba-lomba untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden serta menjadi bagian dari pemerintahan kita yaitu calon legislative (caleg). Apakah tujuan mereka semua baik yaitu untuk mengubah nasib rakyat ?ataukah hanya mau mancari gengsi atau kekuasaan untuk kepentingan pribadinya ?

Di bawah bayang-bayang menguatnya fundamentalisme dan perilaku transaksional, begitulah wajah politik kita saat ini. Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 diharapkan dapat menjadi instrumen yang dapat mengubah carut-marutnya politik Indonesia.

Harapan itulah yang menjadi napas diskusi bertema “Menelaah Prospek Pemilu 2009 bagi Pemulihan Bangsa dan Umat Kristen” yang diadakan Terang Indonesia, di Jakarta, Sabtu (31/1). Turut berpartisipasi dalam acara itu Anggota Komisi III DPR RI Yasonna Laoly, Pengamat Politik CSIS J Kristiadi, Ketua Umum Terang Indonesia Rachmat Manullang, dan Mantan Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Jakob Tobing.

Pemilu adalah metode untuk merangkum berbagai kepentingan politik. Melalui pemilu, kepentingan semua golongan diadu dalam mekanisme konflik yang dilegalkan. Kekuatan politik yang paling banyak dipilih, mendapat posisi tawar lebih baik untuk menentukan nasib bangsa.

Era Orde Baru dihadapkan pada pemilu hipokrit. Tampak demokratis, tetapi sebenarnya pura-pura. Siapa pemenang pemilu? Berapa kursi yang didapat partai tertentu, sudah diset sedemikian rupa oleh penguasa. Bahkan, penguasa juga yang menentukan pemimpin partai.

Pada era reformasi, pemilu lebih demokratis dan menganut sistem multipartai untuk menjamin terakomodasinya semua suara anak bangsa. Bahkan, untuk memilih presiden, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), gubernur, dan wali kota menggunakan sistem pemilihan langsung.

Mulai Gamang

Sayangnya, mulai banyak yang meragukan demokrasi, karena setelah 10 tahun dinikmati dengan gegap gempita, belum terasa dampak nyatanya bagi kesejahteraan masyarakat. Wajar saja jika masyarakat mulai gamang, termasuk terhadap Pemilu 2009.
Kegamangan juga nampak dalam menguatnya gerakan fundamentalis. Regulasi bernunansa agama muncul di berbagai daerah, yang ironisnya, justru lahir karena memanfaatkan instrumen demokrasi.

Frustrasi terhadap demokrasi juga muncul akibat perilaku elite politik yang tidak didasarkan atas visi yang jelas. Sangat pragmatis dan berorientasi jangka pendek. Tukar-menukar pasal sudah lazim terjadi. Ini tercermin misalnya melalui penyusunan undang-undang pemilu legislatif.

Mantan Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilu Legislatif, Yasonna Laoly mengatakan, semangat menguatkan sistem presidensil dengan menyederhanakan jumlah partai ternyata idak selaras dengan keputusan pansus. Kompromi politik terpaksa mengikutsertakan partai-partai yang semula tidak lolos electoral threshold ke Pemilu 2009.

“Sistem multipartai jelas tidak kompatibel dengan penguatan sistem presidensial, diperlukan mekanimse penyederhanaan partai, namun kompromi politik membuat itu tidak terjadi,” ujar Yasonna.

Bisakah kesalahan ditimpakan pada demokrasi? Pengamat politik J Kristiadi mengatakan, sistem demokrasi jelas tidak sempurna. Ada banyak kelemahannya. Namun, di antara semua pilihan yang ada, demokrasilah yang terbaik. “Demokrasi adalah pilihan terbaik dari yang buruk” katanya.

Saat ini, dia menyadari masyarakat memang sedang menunggu buah konkret demokrasi. Oleh karena itu, sudah saatnya partai politik tidak hanya menjadi komoditas untuk berkuasa. “Ketika seseorang terjun di partai politik, panggilan hatinya haruslah seperti panggilan suci, seperti ingin menjadi biarawan,” tuturnya.

Demokrasi, kata Kristiadi, juga menuntut partisipasi aktif warga. Lewat pemilu masyarakat harus menggunakan suaranya secara bertanggung jawab. Artinya, rakyat tidak sekadar datang ke bilik suara dan memberikan suara, tapi harus didahului dengan penyelidikan yang benar tentang calon wakil rakyat, partai, atau presiden pilihannya.
Dengan menyelidiki pilihannya, masyarakat dapat mencegah potensi bandit masuk dan mengakses ruang pembuatan kebijakan publik.

“Jangan sampai pilih yang pintar, tetapi tidak punya komitmen, sehingga pintarnya hanya membodohi rakyat. Bila diberi uang, mungkin hanya mengenyangkan hari itu saja, tetapi jika salah pilih, ruginya lima tahun,” ujarnya.

Bangun Sistem

Menurut Jakob Tobing, membangun sistem adalah hal yang penting ketimbang mencari pemimpin. Negara yang sibuk mencari pemimpin biasanya tidak mendapat apa-apa. Sebaliknya, negara yang berhasil biasanya karena dia membangun sistem. Sistem yang langgeng adalah sistem yang menghargai kemanusiaan.

Demokrasi pantas dipilih, bukan karena dia sempurna, tetapi karena kemampuannya mengoreksi diri sendiri, mencegah abuse of power. Dalam demokrasi juga ada jaminan terhadap kesetaraan dan dihargainya suara semua kelompok. “Demokrasi dapat menjadi alat untuk melawan fundamentalisme,” ujarnya.

Pemimpin bangsa ke depan, kata Jakob, haruslah pemimpin yang memiliki komitmen kepada Pancasila dan NKRI. Salah satunya dengan tidak memelihara kelompok “anak macan”. Dalam pengertian Jakob, anak macan adalah kelompok yang sengaja dipelihara untuk kepentingan kekuasaan, padahal dalam kegiatannya jelas-jelas mengancam keberagaman dan kebhinekaan Indonesia.

Ketua Terang Indonesia Wisnu Tri Oka mengingatkan, tantangan yang akan diahadapi pemimpin bangsa mendatang tidak mudah. Peringkat ekonomi Indonesia terus menurun, begitu pula peringkat iklim investasi. Tetapi pemimpin Indonesia tidak harus seorang extraordinary (luar biasa), cukup seorang yang visioner, moralis, dan pemberani. (vidi vici)

Akhir kata dari saya, semoga pemilu yang akan kita selenggarakan dapat berjalan dengan lancer dan sukses. Pesan dari saya, SEMOGA :

1. pemilu berjalan lancar ;
2. dapat mengubah nasib rakyat ;
3. pemerintah bersikap adil ;
4. peserta menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya ; dan
5. jangan GOLPUT, alias tidak memilih, NETRAL gitu loch….jangan yach !!!
6. serta jangan ada kecurangan, KKN, oleh peserta dan parpol alias SPORTIF Oce??

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s