Who Am I ?

By : Venerable Master Hsing Yun

 

Before I was born, who was I ?

Sebelum saya dilahirkan, siapakah saya ?

 

After birth, who am I ?

Setelah dilahirkan, siapakah saya ?

 

We come into this world with happiness and depart with sorrow.

Kita datang ke dunia ini dengan kebahagiaan dan pergi dengan kesedian.

 

Who is the one on the deathbed with his eyes closed ?

Siapakah itu yang terbaring dengan mata tertutup di dalam peti mati ?

 

This verse comes from the Ching Emperor Shun-chi’s poem in praise of the monastic order. His questions are aptly put. Do we know where we come from ? Who were we before we were born ?

Kalimat-kalimat itu berasal dari puisi karya Shun Chi dari dinasti Ching. Pertanyaan-pertanyaan beliau sangat tepat sasaran. Tahukah kita dari mana kita berasal? Siapakah kita sebelum dilahirkan ?

 

The human body is made up of the four elements of earth, fire, water, and wind. When we die, these four elements scatter and are regrouped as we take on another physical form with rebirth in one of the six realms of existence. We are lost as we move from one realm to another. We do not know what we are doing in the womb, and when we are born, we do not know who we are. Most people rejoice at births and lament upon deaths. What is true joy? What is true sorrow ?

Tubuh manusia terdiri dari empat elemen yaitu bumi (tanah), api, air, dan angin (udara). Ketika kita meninggal, keempat elemen ini berpencar dan menyatu kembali ketika kita akan dilahirkan kembali di salah satu enam alam kehidupan (alam berbentuk). Kita selalu tersesat dan melupakan segalanya ketika kita berpindah dari satu alam kea lam yang lain. Kita tidak tahu apa yang kita lakukan di dalam rahim ibu, dan ketika kita dilahirkan, kita tidak tahu siapakah kita. Kebanyakan orang berbahagia terhadap kelahiran dan bersedih atas kematian. Apakah kebahagiaan yang sesungguhnya itu ? Apakah kesedihan yang sesungguhnya itu ?

 

Once, a Ch’an master was going door to door to seek for alms. It happened that one of the families he visited just had a new baby and everyone was congratulating the new father. The Ch’an master, however, started crying out loud. The new father was very surprised and asked him why he was crying. He replied that he was crying because there would be one more death in the future.

Suatu ketika, seorang guru Zen sedang ber-pindapatta (menerima dana makanan) dari rumah ke rumah. Ada sebuah keluarga yang baru mempunyai seorang bayi, dan setiap orang memberikan ucapan selamat kepada ayah yang baru tersebut. Guru Zen tersebut tiba-tiba menangis dengan sangat keras. Ayah baru tersebut sangat terkejut dan menanyakan mengapa beliau menangis. Beliau mengatakan alasannya menangis karena akan ada satu kematian lagi di masa yang akan datang.

 

Birth comes from death. If we do not want to die, then we must make sure that we break the cycle of rebirth within the six realms of existence. Once there was a famous poet, by the name of Po-hu Tang, he wrote this poem to illustrate the brevity of life:

Kelahiran berasal dari kematian. Jika kita tidak ingin mati, maka kita harus memutuskan siklus kelahiran kembali di enam alam kehidupan berbentuk. Terdapat sebuah puisi yang terkenal oleh Po-hu Tang. Beliau menulis puisi ini untuk menggambarkan singkatnya kehidupan:

 

It is rare that we live to be seventy,

And my seventy years come as even a surprise to me.

The first ten years, we are too young to know anything.

The last ten years, we are too old to do anything.

This leaves only fifty good years, half of which we spend in sleep.

This leaves us only twenty-five years to truly live.

But do you realize how many obstacles.

We have to endure in these twenty-five years?

Sangat jarang kita dapat hidup hingga berusia 70 tahun,

Dan hidup selama 70 tahun seperti sebuah kejutan bagi saya.

Sepuluh tahun pertama, kita terlalu muda untuk mengetahui apapun.

Sepuluh tahun terakhir, kita terlalu tua untuk melakukan apapun.

Waktu yang tersisa hanya 50 tahun, dimana setengah darinya kita gunakan untuk tidur.

Hanya tersisa 25 tahun untuk hidup dengan sebenarnya.

Akan tetapi, sadarkah Anda betapa banyak rintangan hidup

yang harus kita pikul selama 25 tahun ini?

 

Nowadays people can live to be a hundred and twenty. In the boundless life of the universe a hundred and twenty years, go by in a flash. Not to mention many of us will not live to be even a hundred. Many will pass away in their sleep, and we are never sure if we will continue living from one moment to the next.

Sekarang ini, manusia dapat hidup hingga 120 tahun. Di dalam kehidupan yang luas di alam semesta ini, 120 tahun berlalu secepat kilat. Jangankan kita hitung berapa diantaranya yang tidak dapat hidup hingga 100 tahun. Banyak dari kita yang meninggal sewaktu tidur, dan kita bahkan tidak dapat memastikan kita akan terus hidup dari satu saat ke saat yang lain.

 

The joys of birth and the sorrow of death are normal emotions for most people. But someone with wisdom will not allow this precious life to go by meaninglessy. They will not allow themselves to wallow in ignorance. We must beware of delusion and open ourselves up to understanding life and death.

Kebahagiaan atas kelahiran dan kesedihan atas kematian adalah luapan emosi yang normal bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, seseorang yang bijaksana tidak akan membiarkan hidup yang berharga ini berlalu begitu saja. Mereka tidak akan membiarkan diri mereka hanyut dalam ketidak-pedulian/kebodohan. Kita harus selalu waspada terhadap ilusi/khayalan dan membuka diri untuk memahami kehidupan dan kematian.

 

Sumber : Buku Lumbini

      

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s