Makna Religius Berpuasa

 Banyak orang di dunia menghadapi kematian sebelum waktunya, karena terlalu banyak makan.

 

 Dalam ajaran agama Buddha, puas dikenal sebagai salah satu metode untuk mempraktikan pengendalian diri. Buddha menyarankan para Biku untuk tidak memakan makanan padat setelah tengah hari. Orang awam yang menjalani delapan sila pada hari bulan purnama(Che It, Cap Go) juga pantang makan makanan padat setelah tengah hari.

 

Demikian dengan agama lain seperti pada agama Islam. Para umatnya memiliki bulan khusus dalam setahun untuk melaksanakan puasa yang sering disebut dengan bulan puasa atau bulan Ramadhan. Mereka melaksanakan puasa selam sebulan penuh. Hingga di tutup dengan Lebaran atau Idul Fitri.

 

Kadang ada kritik yang menganggap praktik ini sebagai gaya keagamaan. Hal itu bukanlah gaya, tetapi praktik yang didasarkan pada penglihatan moral dan psikologis. Dalam ajaran Buddha, puasa adalah tahap awal disiplin diri untuk mendapatkan pengendalian diri. Di semua agama ad suatu sistem berpuasa. Dengan berpuasa dan mengorbankan makanan satu kali sehari atau untuk periode apapun, kita dapat menyumbangkan makanan kita bagi mereka yang kelaparan atau yang bahkan tidak mendapat makanan layak setiap hari.

 

Orang yang terlalu banyak makan tidak dapat berjuang melawan kemalasan; sementara orang yang rakus dan malas tidak akan mampu melawan nafsu seksual. Jarena itu, menurut semua ajaran moral, usaha pengendalian diri dimulai dengan perjuangan melawan nafsu kerakusan, dimulai dengan berpuasa, karena kondisi pertama hidup yang baik adalah pengendalian diri, demikian juga kondisi pertama untuk hidup dengan pengendalian diri adalah berpuasa.

 

Orang bijak di pelbagai Negara yang mempraktikkan pengendalian diri mulai dengan suatu sistem puasa yang teratur dan diteruskan dengan mencapai tingkat spiritual yang luar biasa. Sebagai contoh, ada sebuah cerita menurut cerita Buddhis yaitu tentang seorang pertapa ditendang dan disiksa, dan kemudian tangan dan kakinya dipenggal atas perintah seorang raja yang gagah. Namun sang petapa, menahan siksaan dengan keseimbangan batin tanpa sedikit pun marah atau benci. Orang religius semacam itu telah mengembangkan kekuatan mentalnya melalui penahanan nafsu-nafsu inderawi.

 

Sumber : MAJALAH BUDDHIS SAKYA JAMBI(edisi 02-NOV-08)

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s